PERANG SAUDARA




PERLAWANAN SURAPATI

SEUSAI PERANG TRUNOJOYO Madura dikembalikan kepada Cakraningrat II yang juga ditunjuk sebagai Bupati Wedana (jabatan ini sekarang mirip Gubenur) di Bangwetan. Pada tahun 1680 ia memindahkan keratonnya ke Tanjung, karena sebagian besar waktunya tersisa untuk melatih kemiliteran di Kartasura bersama Jayengrono.

Amangkurat II wafat pada tahun 1703 dan digantikan puteranya Sunan Mas yang bergelar Amangkurat III.
Sunan Mas merasa tak puas kepada VOC, karena mereka mengingkari janji, sehingga di Mataram timbul pembersihan terhadap mereka yang pro Belanda, Sebagai pamannya Pangeran Puger yang pro Belanda menginginkan tahta Mataram juga. Ia melarikan diri ke Semarang untuk meminta perlindungan serta bantuan kompeni.
Kesempatan emas ini dimanfaatkan oleh kompeni dan dengan persyaratan yang amat menguntungkan kompeni, maka ditandatangani sebuah perjanjian. Perang saudara ini tak terelakkan lagi, dan pasukan sekutu mulai mengadakan penyerangan ke Kartasura, namun berkat bantuan pasukan Surapati akhirnya dapat dipatahkan.
Guna menghindari serangan berikutnya yang Iebih besar, maka Sunan Mas menempatkan 40.000 pasukan di Ungaran, namun panglima pasukan ini membelot kepada Pangeran Puger. Walaupun pada mulanya Kartasura dapat bertahan, tetapi dengan pengkhianatan panglimanýa ini, maka pasukan’Pangeran Puger semakin kuat.
Dengan mengerahkan pasukan besar akhimya pada tahun 1705 tentara sekutu ini dapat menduduki Kartasura, sedangkan Sunan Mas rnenyingkir dan bergabung dengan Surapati di Kediri,

SETELAH KARTASURA JATUH, maka Pangeran Puger oleh VOC dinobatkan sebagai penguasa baru Mataram. ia bertahta dengan gelar Paku Buwono I, sedangkan ibukotanya dipindahkan ke Surakarta. Sesuai dengan perjanjian VOC mernperoleh tambahan daerah kekuasaan. di Jawa bagian barat antara Sungai Ci Lasari dan Ci Tanduy, Madura Timur, penghasilan hutang-hutang Mataram dan 200 orang serdadu VOC sebagai pengawal susuhunan.
Benteng-benteng Surapati adalah Kediri, Bangil, Pasuruan dan Blambangan. Kompeni tenis memburu pasukan Surapati, sehingga Surapati gugur di Bangil, sedangkan perjuangannya dilanjutkan oleh ketiga orang puteranya, Pasukan Surapati akhirnya mundur ke daerah pegunungan Tengger. Mereka terus dikejar oleh Belanda, sehingga akhirnya terdesak lewat Semeru selatan dan terus ke Blambangan. Di benteng terakhir ini pasukan Surapati dapat dilumpuhkan.
Dengan selesainya pembersihan sisa-sisa pasukan Surapati, maka VOC berusaha mendekati Sunan Mas, Dengan siasat yang licik VOC berusaha rnenaklukkan Sunan Mas dengan dalih akan memberikan perlindungan dan perlakuan yang baik asalkan la mau ke Batavia.
Menyadari kenyataan ini, maka Sunan Mas luluh dan menghentikan perlawanannya. Setibanya di Batavia ternyata la ditangkap dan diasingkan ke Sailän pada tahun 1708.

WALAUPUN perlawanan Surapati dan perang saudara ini telah berakhir, namun Cakranigrat masih tetap di Mataram rnembantu Pakubuwono I, Pada tahun 1718 Cakraningrat II balik ke Madura dalam kondisi sakit parah. Dalam perjalanan pulang ini la wafat di Kamal, sehingga karenanya la disebut Cakraningrat sidhing Kamal, la digantikan putera sulungnya R. Tumenggung Sosroadiningrat dengan gelar Cakranigrat III.


R. M. Agus Suryo A - 085231003323
Taken From : Catatan Kecil Keluarga

Pangeran Trunojoyo

Sekilas Tentang :


PERLAWANAN PANGERAN TRUNOJOYO

PADA KONDISI MATARAM yang semakin memburuk ini, maka para adipati bawahan sepakat minta bantuan Pangeran Kejoran yang juga kerabat dekat keraton untuk mendesak agar putera mahkota Adipati Anom agar sudi rnengambil alih pemerintahan.
Upaya membujuk Adipati Anom ini ternyata tidak berhasil, walaupun dia memahami rasa tak puas mereka, namun ía mendukung gagasan untuk mengadakan perubahan di Matararn asalkan bukan dia yang dilibatkan langsung.

Pada situasi sulit ini akhirnya pilihan jatuh pada putera menantu Pangeran Kejoran sendiri yakni Pangeran Trunojoyo, Dalam pertemuan dengan Trunojoyo, Adipati Anom memberikan syarat agar dia tidak dilibatkan langsung dan ía berjanji kelak apabila berhasil akan mengangkatnya sebagai Patih Mataram, dan pangeran itu menerimanya.
Dalam pertemuan berikutnya Adipati Anom memberikan bantuan persenjataan, perbekalan dan dana kepada Trunojoyo.

PANGERAN TRUNOJOYO yang dilahirkan di Sampang ini adalah cucu dari Pangeran Cakraningrat I dan puteranya Adipati Mloyo, adik Pangeran Cakraningrat II lain ibu, ia dilahirkan di sebuah desa yang kemudian disebut Pababaran yang artinya tempat persalinan, dan di tempat ini kemudian dibangun cungkup yang sampai sekarang dikeramatkan orang. Menuntt kepercayaan penduduk Sampang tempat kelahiran Trunojoyo ini sangat sakral, sehingga konon apabila ada seorang ibu/calon ibu yang sulit melahirkan, maka sang ayah atau ke1uarganya membawa sebutir telur dan kembang setaman ke cungkup ini. Dengan posisi merangkak, karena cungkup ini sangat rendah (LK 1/2 m), mereka meletakkan altar petilasan ari-ari. Setelah berdoa dan pulang, telur itu diminumkan sebagai jamu kepada si ibu/calon ibu, dan insya allah akan melahirkan dengan selamat.
Di atas cungkup ini ada gua yang bercahaya ke sana ke mari dengan muara yang lebar, sehingga rakyat di sana menyebutnya ‘guwa lebar’ yang artinya gua yang’lebar. Beberapa tahun yang lalu disini banyak bersarang burung betet. Sekarang gua ini menjadi aset wisata Sampang.

UNTUK MELAKSANAKAN TUGAS BERAT yang dipukul oleh Adipati Anom ia berangkat ke Madura guna menghimpun pengikut yang setia dan membentuk pasukan yang tangguh.
Kehadiran Trunojoyo di Sampang mendapat sambutan yang menggembirakan untuk rakyat, karena mereka lama menderita dari mengimpikan sosok pemimpin yang dapat melindunginya. Dalam waktu yang relatif singkat Pangeran ini dapat menyusun kekuatan dengan membentuk pasukan yang handal, Pada tahun 1674 ini Trunojoo dapat dengan mudah menguasal Madura, sedangkan Pangeran Cakraningrat II dan keluarganya menyingkir ke Mataram, Di Sumenep ia menunjuk R. Bugan sebagai orang kepercayannya, karena secara kebetulan mereka bersahabat ketika bersama-sama berguru di Giri, sehingga dengan demikian seluruh Madura dapat disatukan. Setelah menata pemerintahan dan pertahanan di Madura dan dengan persiapan yang\ matang, maka Trunojoyo dan pasukannya menyeberang ke Panarukan. ia bergabung dengan pasukan Kraeng Galesong yang menduduki pesisir utara Besuki. Kraeng Galesong adalah pelarian dari perang Makasar dan sangat mendendam pada kompeni. Di Demong Panarukan ini Trunojoyo dan Galesong membangun pertahanan yang kuat. Untuk mempererat hubungan ini Galesong menjadi menantunya, sehingga Demang menjadi baris peri uangan melawan Mataram.
Mendapat laporan jatuhnya Madura dan penguasaan Amangkurat II rnengirimkan. pasukan besar untuk memadamkan pemberontakan ini, namun ternyata Mataram menderita kekalahan. Akhirnya Mataram minta bantuan kompeni Kompeni memanfaatkan momen ini untuk kepentingannya dengan syarat-syarat yang sangat merugikan Mataram.

PASUKAN TRUNOJOYO melaju dengan pesatnya, sehingga akhirnya Surabaya jatuh dan hampir seluruh Jawa Timur dan Semarang dapat dikuasainya.
Mojopahit Pusaka ini jatuh ke tangan Kapten Tack; dan pada tgl. 27 Nopember 1678, Anthony Hurdt menyerahkannya kepada Amangkurat II. , Untuk melindungi Bangil, maka pasukan Kraeng Galesong menghadang di Porong, terutama berjaga-jaga dan serangan sekutu dan arah Kediri dan Surabaya. Strategi ini sangat berhasil pada mulanya. Setelah bala bantuan dan pasukan Aru Palaka datang, dalam 5 Minggu hadangan ini dapat dpatahkan, dan pasukan sekutu yang besar ini melaju ke Bangil, sedangkan Kraeng Galesong gugur, dan Bangil jatuh. Trunojoyo dengan pasukan yang setia meloloskan diri ke daerah pegunungan di Ngantang.
Pasukan sekutu tenis memburunya di bawah pimpinan Kapten Jonker. Bala bantuan dan Amdura sekitar 500 orang datang, namun perbekalan makann sebanyak 8 perahu penuh dapat dihadang kompeni di selat Madura yang dirampasnya, sehingga pasukan yang terkepung ini menderita kelaparan dan penyakit. Memahami kenyataan ini akhirnya Trunojoyo menyerah yang kemudian diserahkan pada VOC.
VOC menyerahkan kepada Arnangkurat II yang kemudian menghukum mati di ujung ‘ kerisnya. Ibu Mataram kemudian dipindahkan ke Kartasura, karena Karta dianggap sudah ternoda. 

R. M. Agus Suryo A. - 085231003323
Taken from : Catatan kecil keluarga.

Turunan Cakraningrat IV




Cakraningrat IV memiliki 10 (Sepuluh) Putr-Putri dan 6 (Enam) Istri.

1. R.T. Suroadiningrat ibunya R. Aju Sepuh
2. R.T. Ronoadiningrat ibunya bernama R. Aju Tengah
3. R.T. Sosroadiningrat Ibunya R. Aju Sepuh
4. R.T. Wiroadiningrat, Ibunya bernama Nyai Mani. Tinggal di Bengkulu
5. Ratu Mas Adiningrat, ibunya bernama Ratu Ajunan Putri Susuhunan Pakubuwomo 1.
6. Ratu Sugi Ibunya Ratu Ajunan
7. Ratu Anom ibunya Ratu Ajunan
8. Putera Laki2 meninggal muda.
9. R. Aju Lengser Ibunya Ratu Aju Tengah
10. R. Aju Tjarang ibunya bernama Nyai Murni

Demikian Putra-Putri Cakraningrat IV.